Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Coretan Malam

Mungkin, hanya Malam

Mungkin, hanya malam yang menjadi teman setiaku mengingatmu, membolak balik ingatan, kenangan dan harapan, saling berpacu dulu duluan. Mungkin hanya malam, yang mampu melukiskan kerinduanku, lewat pekatnya gelap dan cahaya rembulan. Mungkin hanya malam, yang mampu mengisi relung, lewat sunyi tak bertuan. Mungkin hanya malam, yang mampu membawamu padaku lewat derap pikiran dan angan. Mungkin, hanya pada malam aku mengadu tentangmu, dan, dalam mimpi aku memilikimu utuh sendirian. #Masih meratapi goblognya diri.

Aku Cinta tapi Aku Goblog

Heyy,.. Ihwal kamu, Hari ini aku kecolongan cemburu yang  sampai menyakitimu,. Maaf, bukan maksudku sama sekali menyakitimu seperti itu, sejenak logikaku sempat hilang, menjadi emosi cemburu, lalu menyakitimu... Hey, Mungkin aku mengukur rasio cintaku hanya lewat hati, bukan logika, sehingga aku menyakitimu lewat emosi bukan realita. Kalau boleh jujur, mungkin aku terlalu mencemburuimu. Bahkan jarak dudukmu saja sudah membuat aku resah, belum lagi supel dan ramah mu. Setauku, mencintai itu mencemburui, maaf kalo takarannya melimpah yang bahkan logikaku pun tidak mampu membendungnya. Aku akan belajar, mencemburuimu pada nilai minimal, atau bahkan nol. Kalaupun tidak bisa, akan ku coba, sampai pada batas tidak menghakimimu atas hal-hal yang akupun tidak tau adanya. Hari ini, melihatmu seperti itu, aku sangat sakit. Walau secercah, aku ingin melihat senyummu. Sebentar saja, lalu pulang......, Karena aku menunggumu untuk itu, tapi kamu masih "menata hati", dua kata ...

Rasa

Merindumu itu bukan hanya tentang kabarmu, tapi tentang rasaku. Rasa yang selalu kupeluk dalam mimpi terdalam, sampai kau tuntaskan lewat sapa "heyy" dalam tulisan "whatsap"mu. Meringankan beban rindu, yang ku tanggung di belahan otak kecilku, berharap kabarmu pada malam panjang yang kuhabiskan dalam genangan rindu tentangmu. Aku tak sekedar mengingatmu, tapi kemaruk ingin rasa hadirmu, disini, disamping ku, bahkan dalam dekapku sebelum gelap sampai fajar bertemu.

Waktuku denganmu

Malam itu, Ingatkah kamu, tentang waktu yang kita rasakan bersama,  tentang malam peraduan kita, tentang cinta yang kita nikmati?, Aku mengingat semua tentang rasamu, tentang kata cintamu, dan tentang bahasa rindumu. Lalu kau berkata “hey, sadar, ini aku bukan si anu”, kukatakan dengan sadarku, “hey, aku tau ini dirimu, dirimu yang aku inginkan lebih dari apapun”. Kita saling dekap dalam rasa dan gelora asmara, aku memelukmu, sampai pagi memeluk kita berdua. Kita, ya “kau dan aku” melarutkan diri dalam cerita asmara kita, kau tau, aku mencintaimu, aku mencintaimu lebih dari yang kau bayangkan, dan saat ini berat bagiku untuk tidak melihatmu. Ingatkah kamu, kita lewati hari bersama lewat rangkaian kopi dan nasi padang, yang ternyata lebih nikmat jika bersamamu, lebih indah dengan adamu. Sore itu, kita habiskan waktu sampai senja kembali beradu “temani aku ke Sarinah katamu”, bagiku tiada titah lebih indah selain pintamu itu, dan dengan nalar dan sadarku, kemanapun mau...

Berharap

Setiap kata tertulis darimu, lebih indah dari tiap malam-malam sunyiku. Canda dan tawamu memecahkan hening dan pekatnya malam, membawa aku larut dalam rasa indah yang menenangkan. Kau membuat, setiap hari dan malam yang kulalui penuh arti, tanpamu malamku sunyi lagi.

Malam Kita

Hari ini aku ingin mengenangmu selamanya, mengenangmu dalam memori malam yang kita habiskan berdua, dalam ciuman dan dekapan yang mengantarku pada mimpi terindahku tentangmu. Entah denganmu, tapi ini adalah malam yang membuat  aku memilikimu, menginginkanmu dan tak sedetikpun merelakanmu tanpa dekapku, inginku kecup bibirmu dalam-dalam, ingin ku nikmati bersamamu sampai kau tak menginginkanku lagi. Sayang, kita saling mendekap dalam jaga, merangkul dalam lena dan dalam ingatanku, aku ingin mengingatmu selamanya. Malam itu kuhabiskan waktuku untuk menatapmu, kau begitu indah meski dalam tidurmu, dan tak ingin kuhabiskan malamku tanpa menatapmu.

Rindu

Entah mengapa, semakin hari aku semakin merasa ada yang hilang, dan itu terasa setiap tidak ketemu dia. Entah mengapa, tiba-tiba aku merasa kurang setiap hari tanpa ada sapanya. Entah mengapa, semakin hari aku semakin risau setiap saat tanpa ada kabar darinya. Hey, mengapa kamu begitu? Mencuri hati lewat  sapaan manja, menghilangkan gulana lewat cerita dan tatapan mata. Hey, mengapa kamu begitu indah dimataku, begitu sempurna di anganku, dan hari-hari kini aku merindumu. # saat merindukanmu

Hati,... Hati,... Hati,...

Bermain dengan hati, tidak mudah memang, apalagi ketika hati bermain di fase cinta, rasanya semuanya menjadi lebih rumit, membingungkan dan menyesakkan. Bermain dengan hati itu repot, menyusahakan, juga menyebalkan, tapi manusia mana yang bisa menghindarinya?,. Seperti apapun rupa dan bentuk manusai, suatu saat hatinya pasti akan bermain, entah tentang cinta, cemburu, iri, dengki, kesel, bosa, muak atau apapun itu, suatu saat pasti akan dirasa. Dari kesemua itu, permainan hati yang paling tidak kusukai adalah cinta, iya, cinta, karena cinta itu komplek, lebih komplek dari algoritma matematik, fisika maupun kimia dengan rangkaian perhitungannya. Berbeda pula dengan itu, cinta ukurannya adalah abstrak dan absolute, tidak bisa pul di hitung dengan persamaan apapun yang di ciptakan manusia, hasil hitungan kuantitatifnya adalah tak terhingga, bayangkan,   jumlah nonya saja tidak bisa di hitung, itu cinta, ukurannya abstrak dan tidak bisa di konkritkan. Cinta itu adalah ukuran tindaka...

Pertanyaan (masih) Tanpa Jawaban

"Akan aku jawab 3 bulan dari sekarang yah" kata-kata itu yang muncul dari bibir manismu ketika aku bertanya kapan kamu akan menjadi milikku?, ada kecamuk rasa saat aku mendengar ucapanmu itu, hatiku ragu, namun bersamaan semakin kuat rasaku untuk memilikimu, semakin ingin aku memilikimu, dan cintaku, oh entah dengan kadar ukuran apa aku bisa menimbangnya. Aku sangat mencintaimu, dan entah berapa kali juga telah aku ungkapkan, tuhan, angin, awan, daun, ranting, burung, bahkan semesta tau aku begitu mencintainya,aku hanya tak sanggup untuk menunggu jawabanmu yang begitu lama menurut ukuran nalar cintaku, 3 bulan untuk menunggu jawabnmu itu seakan-akan aku harus menunggu seumur hidupku, seolah-olah aku harus meratapi waktu yang detiknya kian melambat menghitung waktu, bahkan kadang aku merasa waktu terlalu stagnan, tidak beranjak sedetikpun, tidak bergerak seincipun. Hari - hari yang aku lalui bagaikan fragman pecahan teka-teki   yang menunggu untuk diselesaikan, begitu rum...