Langsung ke konten utama

Inilah SITTI, Si Penantang Google dari Indonesia

“Hey, Google. Silahkan datang ke Indonesia. Kami siap bersaing dengan Anda!”. Pernyataan ini terlontar dari Andy Sjarif, CEO Group Sitti (sistem iklan teknologi teks Indonesia). Pernyataan di atas terdengar nekat mengingat Sitti bukan siapa-siapa dibandingkan Google yang merajai internet secara global dalam satu dekade terakhir.

Tapi, Sitti tidak main-main. Andy dan kawan-kawan memupuk optimisme sebagai perusahaan start up yang mampu menandingi Google. Siapa Sitti? Apa yang membuatnya berani menantang Google di Tanah Air?
Jika Anda tahu Google AdSense dan bagaimana cara kerjanya, cukup sederhana untuk menjelaskan siapa Sitti. Jika Google AdSense skalanya global, Sitti khusus di wilayah Indonesia. Singkatnya, baik Google AdSense maupun Sitti, keduanya sama-sama bergerak di bidang periklanan berbasis kontekstual.
“Kami akui, kami meniru model bisnis Google AdSense, yakni semacam layanan contextual advertising (periklanan berbasis kontekstual) milik Google beruba banner di dalam halaman website atau blog. Dan, layanan inilah salah satu penyumbang laba terbesar Google,” kata Andy di sela acara Sitti Buka Pintu, Jakarta, Rabu 24 November 2010.
Kalau di bidang mesin pencarian, Sitti mengaku kalah telak. Tetapi, untuk urusan contextual advertising, Andy mengaku optimis dapat membuat Google tunduk. Menurutnya, Google AdSense hanya mengandalkan Google Translator untuk menerjemahkan isi dan konten di dalam blog atau website. Lantas mesin mereka mencocokkan konten tersebut dengan iklan yang memiliki relevansi paling kuat.
“Tapi, bagaimana mau relevan. Walau katanya sudah menguasai 139 bahasa, terjemahan Google Translator masih sering ngaco. Bisa diterapkan untuk mesin pencarinya, tapi sulit diterapkan pada Google AdSense,” kata Andy.
“Nah, sementara Sitti sebagai start up lokal sudah sepatutnya bisa mengatasi Google di ranah ini. Selain mengenal bahasa Indonesia dengan baik, kami juga bisa menemukenali bahasa daerah, prokem, sampai bahasa alay kalau perlu, untuk kemudian dicocokkan dengan iklan yang relevan,” imbuhnya.
Screenshot banner iklan SITTI di salah satu website
Sama halnya dengan Google AdSense, Sitti juga memajang iklan yang sesuai dengan konten sebuah website atau blog. Misalnya, sebagai contoh, Anda menemukan sebuah blog berisi tentang resep membuat roti buaya. Maka, apa yang Sitti lakukan adalah menaruh banner iklan roti Kartika Sari asal Bandung pada sisi halaman blog tersebut.
“Intinya, relevansi iklan yang dipajang Sitti relatif lebih relevan dengan konten yang ada di dalam website ketimbang iklan yang dipajang Google AdSense. Kalau Anda sadar, seringkali iklan yang disuguhkan Google tak sesuai dengan isi konten di sebuah blog,” tukas Andy.
Hal ini dibuktikan Sitti dari data yang dikemas sejak 1 Oktober sampai 5 November. Data ini sekaligus mengundang decak kagum dan rasa optimis tingkat tinggi bagi para awak Sitti sendiri:

SITTI Google AdSense

Logo Sitti Google AdSense
Impresi 88,5% 11,5%
Klik 51% 49%
CTR* 64,06% 20,87%
*CTR atau clickthrough rate merupakan istilah cara yang dipakai untuk mengukur keberhasilan suatu kampanye atau iklan online.
Secara holistis, diakui Andy, Google memang juaranya. Terlebih lagi di mesin pencari. Google dianggapnya superior. Kalau Sitti punya enam server, Google sekitar satu juta server.
“Google AdSense adalah raja konteks sedunia dengan menguasai 129 bahasa. Dia akan datang ke untuk mendominasi pasar di Indonesia. Sitti siap menghadang mereka secara komersial. Hey, Google. Silahkan datang ke Indonesia!” tegas Andy.
Bagi Anda, terutama pengusaha UKM, yang tertarik untuk mengiklankan produk Anda dengan Sitti, Anda bisa mengunjungi link berikut ini. Hingga penghujung tahun, Sitti tidak mengenakan biaya bagi para pengiklan. Andy menuturkan, Sitti akan beranjak komersial saat menginjak tahun 2011. Sayangnya, dia enggan menuturkan berapa biaya yang dikenakan pada para pengiklan.
source : vivanews, 359.sitti

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bos Forbes Yakin Indonesia Dapat Menjadi Negara Maju

Pemilik Majalah Forbes, Steve Forbes menilai orang Indonesia bisa semakin kaya dalam tahun-tahun ke depan. Sebab, kondisi perekonomian lebih baik dibandingkan mayoritas negara di dunia serta meningkatnya kebutuhan akan sumber daya alam menjadi faktor pendorong peningkatan kekayaan orang Indonesia. Pria yang mengaku khusus datang ke Jakarta untuk melongok perkembangan Tanah Air mengatakan, Indonesia dapat lebih maju jika secara serius membenahi sektor pendidikan dan infrastruktur. Dengan begitu, Indonesia dapat menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang saat ini berada di kisaran 6 persen atau lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 3 persen. Data yang dilansir majalah Forbes pada Desember ini memperlihatkan terjadinya peningkatan kekayaan orang-orang kaya di Indonesia. Total kekayaan 40 orang terkaya tersebut meningkat hampir dua kali lipat dalam satu tahun yaitu US$ 42 miliar pada tahun 2009 menjadi US$ 71 miliar pada tahun 2010. "Itu peningkatan uang yang teramat ...

Kalkulator Energi Buatan Dalam Negeri

KOMPAS.com — Kesulitan pemenuhan kebutuhan energi bukan hanya soal keterbatasan sumber daya dan teknologi, melainkan juga soal semakin tingginya permintaan energi itu sendiri. Betapapun melimpah sumber energinya, jika tak dibarengi dengan upaya efisiensi energi, sumber daya tersebut tetap akan terbatas. Peneliti Pusat Ilmu Komputer (Puslim) Universitas Indonesia beserta anggota tim lainnya yang bekerja sama dengan Danish International Development Assistance, Denmark, mengajak kita semua untuk mulai berhitung dengan seluruh energi yang digunakan, terutama energi listrik. Mereka mengembangkan kalkulator energi yang bisa diakses di portal www.konservasienergiindonesia.info . Zaki Rahman dari Puslim UI, dalam presentasinya di acara peluncuran Energy Efficiency and Conservation Clearing House Indonesia (EECCHI), hari ini (4/3/2011) di JW Marrriot Jakarta, mengatakan, "Kalkulator energi ini bisa menghitung konsumsi energi listrik, distribusi energinya ke mana saja, dan bagian-bagian ...