Langsung ke konten utama

Antropolog Australia Ceramah Soal Batik

EPOK, KOMPAS.com--Antropolog dari School of Anthropology and Archaeology, James Cook University, Australia, Maria Friend akan memberikan ceramah tentang batik, di Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Indonesia.
Kepala Humas FIB UI, Barbara, di Depok, Rabu mengatakan Maria Friend banyak menulis mengenai tekstil Asia Tenggara dan beberapa kali menjadi kurator dalam pameran mengenai tradisi tekstil Indonesia dan Laos yang diselenggarakan di Australia dan Polandia.
Ia mengatakan ceramah ilmiah yang akan diberikan pada Kamis (10/2) itu merupakan salah satu dari serangkaian acara dalam rangka pendirian Pusat Kajian Batik Universitas Indonesia.
Acara tersebut merupakan kerja sama antara Departemen Arkeologi, Departemen Filsafat, Departemen Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Departemen Kewilayahan, Departemen Linguistik dan Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.
Menurut dia, teknik membatik diperkenalkan oleh seniman-seniman Belanda dan menjadi populer di Jerman, Austria, Perancis, Inggris dan Swiss.
Teknik tersebut tidak hanya diaplikasikan pada seni tekstil, namun juga diaplikasikan di media lain seperti kayu, keramik dan gading gajah.
Bahkan motif parang rusak sempat diabadikan oleh Henri Matisse dalam salah satu lukisannya. Di Afrika, batik diperkenalkan oleh pedagang Belanda dan Inggris pada pertengahan abad ke-19 saat mereka mengekspor imitasi Batik Jawa ke benua tersebut.
Dalam perkembangannya, kata dia, masyarakat Sub-Sahara mengadaptasi motif-motif Batik Jawa dengan selera Afrika, yaitu dalam motif-motif yang lebih besar dan tebal serta warna-warna yang lebih cerah, pada pakaian katun mereka.
"Teknik membatik juga diperkenalkan kepada masyarakat Aborigin di Australia sekitar tahun 1970-an, mengakibatkan komunitas Aborigin di Ernabella dan Utopia kini mengembangkan kesenian Batik Aborigin," ujarnya.
Batik secara historis berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman.
Namun dalam sejarah perkembangannya batik mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya.
Selanjutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini.
Jenis dan corak batik tradisional tergolong amat banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang amat beragam.
Khasanah budaya Bangsa Indonesia yang demikian kaya telah mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisional dengan ciri kekhususannya sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bos Forbes Yakin Indonesia Dapat Menjadi Negara Maju

Pemilik Majalah Forbes, Steve Forbes menilai orang Indonesia bisa semakin kaya dalam tahun-tahun ke depan. Sebab, kondisi perekonomian lebih baik dibandingkan mayoritas negara di dunia serta meningkatnya kebutuhan akan sumber daya alam menjadi faktor pendorong peningkatan kekayaan orang Indonesia. Pria yang mengaku khusus datang ke Jakarta untuk melongok perkembangan Tanah Air mengatakan, Indonesia dapat lebih maju jika secara serius membenahi sektor pendidikan dan infrastruktur. Dengan begitu, Indonesia dapat menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang saat ini berada di kisaran 6 persen atau lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 3 persen. Data yang dilansir majalah Forbes pada Desember ini memperlihatkan terjadinya peningkatan kekayaan orang-orang kaya di Indonesia. Total kekayaan 40 orang terkaya tersebut meningkat hampir dua kali lipat dalam satu tahun yaitu US$ 42 miliar pada tahun 2009 menjadi US$ 71 miliar pada tahun 2010. "Itu peningkatan uang yang teramat ...

Kalkulator Energi Buatan Dalam Negeri

KOMPAS.com — Kesulitan pemenuhan kebutuhan energi bukan hanya soal keterbatasan sumber daya dan teknologi, melainkan juga soal semakin tingginya permintaan energi itu sendiri. Betapapun melimpah sumber energinya, jika tak dibarengi dengan upaya efisiensi energi, sumber daya tersebut tetap akan terbatas. Peneliti Pusat Ilmu Komputer (Puslim) Universitas Indonesia beserta anggota tim lainnya yang bekerja sama dengan Danish International Development Assistance, Denmark, mengajak kita semua untuk mulai berhitung dengan seluruh energi yang digunakan, terutama energi listrik. Mereka mengembangkan kalkulator energi yang bisa diakses di portal www.konservasienergiindonesia.info . Zaki Rahman dari Puslim UI, dalam presentasinya di acara peluncuran Energy Efficiency and Conservation Clearing House Indonesia (EECCHI), hari ini (4/3/2011) di JW Marrriot Jakarta, mengatakan, "Kalkulator energi ini bisa menghitung konsumsi energi listrik, distribusi energinya ke mana saja, dan bagian-bagian ...