Geregetan betul jadi bangsa Indonesia, ketika harus berhadapan dengan Malaysia. Kita seperti dilecehkan. Mengapa mereka bisa seperti itu? Jangan-jangan, Malaysia menganggap kita mudah terbeli Setidaknya melalui jabatan, seperti yang diberikan ke sejumlah orang Indonesia yang memiliki fungsi strategis.
Kasus terakhir ‘pelecehan’ Malaysia terhadap Indonesia terjadi minggu lalu. Tiga patroli pengawas perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI ditangkap polisi Malaysia. Padahal, seperti diwartakan Kompas, mereka sedang menggiring lima kapal nelayan Malaysia yang masuk perairan Indonesia.
Dan pemerintah Indonesia, sungguh begitu lunak, setelah: petugas resmi ditangkap, kapal patroli Malaysia masuk perairan Indonesia berulang-ulang, patok perbatasan digeser-geser dan …. (masih banyak lagi).
Lo, kok berani … Tentu Malaysia bukan bodoh. Kaki tangannya banyak di Indonesia untuk melunakkan para petinggi negeri. Dengan beragam modus. Dan mereka, rata-rata memiliki fungsi sosial-politik yang cukup strategis di Indonesia. Berikut yang pernah terungkap oleh media massa:
Peter Sondakh. Seperti diwartakan oleh Strait Times, pemilik Rajawali Group itu ditasbihkan sebagai penasihat Perdana Menteri Malaysia Abdul Razak, untuk urusan Indonesia. Hubungan keduanya terbangun sejak Sondakh ingin menjual XL ke Telekom Malaysia, perusahaan yang dimiliki oleh Khazanah. Kemudia, Sondakh juga membeli dua hotel di Malaysia.
Gita Wirjawan. Kepala BKPM, pendiri perusahaan investasi Ancora Group ini, adalah mantan Direktur Independen Telekom Malaysia - anak perusahaan Khazanah, BUMN Malaysia - sekaligus Komisaris di XL. Jabatan itu dilepasnya (?) setelah dia menjadi Kepala BKPM. Kabarnya, seperti ramai dibicarakan media di Indonesia, Gita adalah orang yang berjasa atas masuknya Agus Harymurti - putra sulung SBY - di Harvard. Dari mulusnya sekolah hingga urusan beasiswa.
Arifin Siregar. Mungkin sekarang sudah tidak lagi. Tapi seperti ditulis kantor berita Antara pada 1 Oktober 2007, dia didapuk menjadi Komisaris di Sime Darby, BUMN Malaysia yang bergerak di perkebunan. Masuknya Arifin setelah perusahaan plat merah Malaysia itu mengakuisis perkebunan milik Salim yang dikelola Badan Penyehatan dan Perbankan Nasional (BPPN) melalui PT Holdiko.
Bayangkan, betapa sinkronnya antara pemerintah dan BUMN Malaysia. Tentu terlalu naif jika kita berpikir tidak ada latar belakang “tertentu” dengan keterlibatan sejumlah orang dengan posisi strategis itu di BUMN Malaysia.
Jangan-jangan, informasi dan lobi dari sejumlah “orang bayaran” Malaysia itulah yang membuat kita seperti tak berdaya. Tiga yang terungkap media. Lainnya …?
Kasus terakhir ‘pelecehan’ Malaysia terhadap Indonesia terjadi minggu lalu. Tiga patroli pengawas perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI ditangkap polisi Malaysia. Padahal, seperti diwartakan Kompas, mereka sedang menggiring lima kapal nelayan Malaysia yang masuk perairan Indonesia.
Dan pemerintah Indonesia, sungguh begitu lunak, setelah: petugas resmi ditangkap, kapal patroli Malaysia masuk perairan Indonesia berulang-ulang, patok perbatasan digeser-geser dan …. (masih banyak lagi).
Lo, kok berani … Tentu Malaysia bukan bodoh. Kaki tangannya banyak di Indonesia untuk melunakkan para petinggi negeri. Dengan beragam modus. Dan mereka, rata-rata memiliki fungsi sosial-politik yang cukup strategis di Indonesia. Berikut yang pernah terungkap oleh media massa:
Peter Sondakh. Seperti diwartakan oleh Strait Times, pemilik Rajawali Group itu ditasbihkan sebagai penasihat Perdana Menteri Malaysia Abdul Razak, untuk urusan Indonesia. Hubungan keduanya terbangun sejak Sondakh ingin menjual XL ke Telekom Malaysia, perusahaan yang dimiliki oleh Khazanah. Kemudia, Sondakh juga membeli dua hotel di Malaysia.
Gita Wirjawan. Kepala BKPM, pendiri perusahaan investasi Ancora Group ini, adalah mantan Direktur Independen Telekom Malaysia - anak perusahaan Khazanah, BUMN Malaysia - sekaligus Komisaris di XL. Jabatan itu dilepasnya (?) setelah dia menjadi Kepala BKPM. Kabarnya, seperti ramai dibicarakan media di Indonesia, Gita adalah orang yang berjasa atas masuknya Agus Harymurti - putra sulung SBY - di Harvard. Dari mulusnya sekolah hingga urusan beasiswa.
Arifin Siregar. Mungkin sekarang sudah tidak lagi. Tapi seperti ditulis kantor berita Antara pada 1 Oktober 2007, dia didapuk menjadi Komisaris di Sime Darby, BUMN Malaysia yang bergerak di perkebunan. Masuknya Arifin setelah perusahaan plat merah Malaysia itu mengakuisis perkebunan milik Salim yang dikelola Badan Penyehatan dan Perbankan Nasional (BPPN) melalui PT Holdiko.
Bayangkan, betapa sinkronnya antara pemerintah dan BUMN Malaysia. Tentu terlalu naif jika kita berpikir tidak ada latar belakang “tertentu” dengan keterlibatan sejumlah orang dengan posisi strategis itu di BUMN Malaysia.
Jangan-jangan, informasi dan lobi dari sejumlah “orang bayaran” Malaysia itulah yang membuat kita seperti tak berdaya. Tiga yang terungkap media. Lainnya …?
Komentar
Posting Komentar