Indonesia merupakan konsumen bahan makanan terbesar di Asia Tenggara. Alokasi konsumsi masyarakat Indonesia terhadap produk makanan dan minuman mencapai 51 persen di pasar Asia Tenggara.
Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, berkembang pesatnya industri makanan dan minuman ini sangat ditunjang populasi penduduk Indonesia yang kini mencapai 230 juta jiwa, yang pendapatan per kapitanya terus naik dari US$1.946/orang pada 2007 menjadi US$2.590 tahun 2009.
Selain itu, nilai omset industri makanan minuman mencapai Rp600 triliun pada 2009. Dari Rp600 triliun, 10-15 persennya berasal dari bahan makanan. Hal ini juga menjadi perhatian ratusan produsen makanan asing tengah mengincar pasar Indonesia.
Perusahaan lokal juga tidak mau ketinggalan memanfaatkan peluang ini. Dua hari ke depan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, anak Usaha PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) akan melepas saham perdananya kepada publik.
Menurut Head of Corporate Finance Kim Eng Securities Setiawan Darmawidjaja, tingginya investor yang berminat menyebabkan saham itu mengalami beberapa kali kelebihan permintaan (oversubscribed). "Tapi kita tidak bisa memberikan angka pastinya," kata dia kepada VIVAnews di sela penawaran saham retail di Jakarta.
Indofood CBP Sukses Makmur melepas saham perdana pada harga Rp5.395/unit, sebanyak-banyaknya 1,16 miliar saham bernominal Rp100 per unit. Jumlah itu maksimum 20 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh dalam perseroan setelah IPO.
Indofood CBP merupakan hasil penggabungan empat unit usaha di bidang mie instan dan bumbu, yaitu PT Indobiskuit Mandiri Makmur, PT Ciptakemas, PT Indosentra Pelangi, dan PT Gizindo Primanusantara.
Analis PT Reliance Securities Tbk Gina Novrina Nasution berpendapat, secara fundamental kinerja Indofood CBP meningkat selama tiga tahun terakhir. Penjualan pada 2007 tercatat Rp9,4 triliun, sebelum naik menjadi Rp12 triliun pada 2008 dan Rp16,3 triliun tahun lalu (2009).
Laba bersih juga melambung dari Rp55 miliar pada 2007 menjadi Rp1,07 triliun hingga akhir 2009. "Kami memang belum melakukan valuasi harga sahamnya," kata Gina kepada VIVAnews di Jakarta.
Namun, bila melihat kinerja selama tiga tahun terakhir, menurut dia, fundamental saham Indofood CBP cukup menjanjikan. Apalagi, pada kuartal I-2010, penjualan sudah mencapai sekitar 30 persen dari penjualan tahun lalu. "Jadi, hingga akhir tahun ini penjualan Indofood CBP bisa meningkat, atau minimal menyamai perolehan tahun lalu," tuturnya.
Gina menilai, prospek kinerja Indofood CBP bakal tertopang momentum Lebaran, Natal, serta Tahun Baru. "Kuartal III-IV tahun ini, kinerja diperkirakan lebih bagus," ujarnya.
Meski demikian, dia memberikan catatan, kinerja sektor konsumsi termasuk Indofood CBP akan dipengaruhi perkembangan harga bahan baku, fluktuasi nilai tukar rupiah, dan persaingan industri yang kompetitif.
Laporan keuangan Indofood menunjukkan, penjualan bersih Rp18,1 triliun pada paruh pertama tahun ini. Perolehan tidak jauh berbeda dengan periode yang sama sebelumnya Rp18 triliun. Sedangkan laba bersih Rp1,4 triliun, naik hampir dua kali lipat dari periode yang sama tahun lalu Rp99,7 miliar.
Sebanyak Rp6,18 triliun, penjualan bersih perseroan ditopang bisnis mie instan. Total sumbangan bisnis makanan dan minuman kepada Indofood mencapai Rp8,9 triliun, sedangkan laba usaha Rp1,25 triliun.
Sementara itu, dibandingkan dengan kinerja pesaing terdekat Indofood, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) masih ketinggalan untuk bisnis makanan dan minuman. Penjualan bersih Unilever per Juni 2010, bisnis makanan dan minuman hanya Rp2,4 triliun.
Bisnis Unilever masih ditopang segmen perawatan rumah tangga yang mencapai penjualan bersih Rp7,5 triliun. Sementara itu, total penjualan bersih Unilever Rp9,92 triliun, sedangkan laba bersih Rp1,7 triliun.
Namun, jika dibandingkan dengan tahun lalu (2009), penjualan bersih makanan dan minuman Rp2,07 triliun, serta perawatan dan rumah tangga Rp6,89 triliun.
Menilik kinerja saham sektor makanan dan minuman parent company, INDF hari ini bergerak naik ke level Rp5.600. Sedangkan saham UNVR berwarna merah pada posisi Rp17.400 dari posisi pembukaan perdagangan pagi tadi Rp17.500.(ywn)
• VIVAnews
Reply With Quote
Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, berkembang pesatnya industri makanan dan minuman ini sangat ditunjang populasi penduduk Indonesia yang kini mencapai 230 juta jiwa, yang pendapatan per kapitanya terus naik dari US$1.946/orang pada 2007 menjadi US$2.590 tahun 2009.
Selain itu, nilai omset industri makanan minuman mencapai Rp600 triliun pada 2009. Dari Rp600 triliun, 10-15 persennya berasal dari bahan makanan. Hal ini juga menjadi perhatian ratusan produsen makanan asing tengah mengincar pasar Indonesia.
Perusahaan lokal juga tidak mau ketinggalan memanfaatkan peluang ini. Dua hari ke depan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, anak Usaha PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) akan melepas saham perdananya kepada publik.
Menurut Head of Corporate Finance Kim Eng Securities Setiawan Darmawidjaja, tingginya investor yang berminat menyebabkan saham itu mengalami beberapa kali kelebihan permintaan (oversubscribed). "Tapi kita tidak bisa memberikan angka pastinya," kata dia kepada VIVAnews di sela penawaran saham retail di Jakarta.
Indofood CBP Sukses Makmur melepas saham perdana pada harga Rp5.395/unit, sebanyak-banyaknya 1,16 miliar saham bernominal Rp100 per unit. Jumlah itu maksimum 20 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh dalam perseroan setelah IPO.
Indofood CBP merupakan hasil penggabungan empat unit usaha di bidang mie instan dan bumbu, yaitu PT Indobiskuit Mandiri Makmur, PT Ciptakemas, PT Indosentra Pelangi, dan PT Gizindo Primanusantara.
Analis PT Reliance Securities Tbk Gina Novrina Nasution berpendapat, secara fundamental kinerja Indofood CBP meningkat selama tiga tahun terakhir. Penjualan pada 2007 tercatat Rp9,4 triliun, sebelum naik menjadi Rp12 triliun pada 2008 dan Rp16,3 triliun tahun lalu (2009).
Laba bersih juga melambung dari Rp55 miliar pada 2007 menjadi Rp1,07 triliun hingga akhir 2009. "Kami memang belum melakukan valuasi harga sahamnya," kata Gina kepada VIVAnews di Jakarta.
Namun, bila melihat kinerja selama tiga tahun terakhir, menurut dia, fundamental saham Indofood CBP cukup menjanjikan. Apalagi, pada kuartal I-2010, penjualan sudah mencapai sekitar 30 persen dari penjualan tahun lalu. "Jadi, hingga akhir tahun ini penjualan Indofood CBP bisa meningkat, atau minimal menyamai perolehan tahun lalu," tuturnya.
Gina menilai, prospek kinerja Indofood CBP bakal tertopang momentum Lebaran, Natal, serta Tahun Baru. "Kuartal III-IV tahun ini, kinerja diperkirakan lebih bagus," ujarnya.
Meski demikian, dia memberikan catatan, kinerja sektor konsumsi termasuk Indofood CBP akan dipengaruhi perkembangan harga bahan baku, fluktuasi nilai tukar rupiah, dan persaingan industri yang kompetitif.
Laporan keuangan Indofood menunjukkan, penjualan bersih Rp18,1 triliun pada paruh pertama tahun ini. Perolehan tidak jauh berbeda dengan periode yang sama sebelumnya Rp18 triliun. Sedangkan laba bersih Rp1,4 triliun, naik hampir dua kali lipat dari periode yang sama tahun lalu Rp99,7 miliar.
Sebanyak Rp6,18 triliun, penjualan bersih perseroan ditopang bisnis mie instan. Total sumbangan bisnis makanan dan minuman kepada Indofood mencapai Rp8,9 triliun, sedangkan laba usaha Rp1,25 triliun.
Sementara itu, dibandingkan dengan kinerja pesaing terdekat Indofood, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) masih ketinggalan untuk bisnis makanan dan minuman. Penjualan bersih Unilever per Juni 2010, bisnis makanan dan minuman hanya Rp2,4 triliun.
Bisnis Unilever masih ditopang segmen perawatan rumah tangga yang mencapai penjualan bersih Rp7,5 triliun. Sementara itu, total penjualan bersih Unilever Rp9,92 triliun, sedangkan laba bersih Rp1,7 triliun.
Namun, jika dibandingkan dengan tahun lalu (2009), penjualan bersih makanan dan minuman Rp2,07 triliun, serta perawatan dan rumah tangga Rp6,89 triliun.
Menilik kinerja saham sektor makanan dan minuman parent company, INDF hari ini bergerak naik ke level Rp5.600. Sedangkan saham UNVR berwarna merah pada posisi Rp17.400 dari posisi pembukaan perdagangan pagi tadi Rp17.500.(ywn)
• VIVAnews
Reply With Quote
Komentar
Posting Komentar