Langsung ke konten utama

Indonesia Jadi Basis Produksi Serat Rayon Terbesar di Dunia

south-pacific-viscose-indonesiaproud
Grup Lenzing yang berbasis di Austria menambah investasinya di Indonesia sebesar 130 juta dollar AS (sekitar 1,3 triliun rupiah) dengan memperluas pabrik anak perusahaannya PT South Pacific Viscose (SPV) dan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi rayon terbesar di dunia.
CEO Grup Lenzing Peter Untersperger, dalam jumpa pers di Jakarta pada 13 Januari 2011, mengatakan bahwa investasi ini dilakukan untuk membangun line produksi jumbo dalam dua tahun. Selama ini, SPV sudah membangun empat line produksi serat rayon dengan total kapasitas produksi 245.000 metrik ton per tahun. Dengan investasi ini, kapasitas produksi bertambah 80.000 metrik ton per tahun sehingga total kapasitas produksi 325.000 metrik ton per tahun.
Selain serat rayon, keempat line itu juga sudah menghasilkan sodium sulphate dengan produksi 142.000 metrik ton per tahun. Pembangunan line lima ditargetkan meningkatkan kapasitas sodium sulphate menjadi 188.000 metrik ton per tahun. Pabrik dengan bahan baku bubur (pulp) kayu impor itu terletak di Purwakarta, Jawa Barat.
Peter menjelaskan, ”Keputusan investasi ini dilakukan langsung setelah selesainya investasi peningkatan kapasitas produksi senilai 170 juta dollar AS sejak tahun 2008 hingga 2010. Dalam tiga dekade ini, investasi Lenzing untuk SPV sudah mencapai 700 juta dollar AS.”
Pabrik line lima juga akan memproduksi serat rayon (viscose) berkualitas tinggi untuk mendukung industri tekstil di Indonesia dan terutama fokus pada serat cerah (bright fiber) dengan teknologi pemintalan berkecepatan tinggi. Rancang bangun dan desain line lima mengikuti standar Lenzing untuk line produksi di Asia, yang merupakan konsep line produksi serat rayon tunggal terbesar di dunia.
”Kami ingin menjadi terdepan dalam inovasi serat rayon. SPV pun menjadi basis produksi Lenzing di Asia,” ujar Peter.
Presiden Direktur SPV Wolfram Kalt mengatakan, konsumsi serat rayon cenderung meningkat. Serat rayon berasal dari kayu sehingga industri ini tidak bergantung sama sekali dengan kapas yang saat ini sedang sulit. Karena itu, pihaknya menjamin pasokan di pasar dunia.
Menurut Wolfram, pihaknya memahami kondisi Indonesia yang dinamis. Teknologi tinggi pemintalan yang digunakannya mampu melakukan efisiensi dalam penggunaan energi ataupun air.
”Saat berlangsungnya proyek line lima, sekitar 1.000 pekerja lokal yang dilibatkan. Setelah proyek ini selesai, diperkirakan ada 300 pekerja permanen yang akan bekerja di line lima sehingga total tenaga kerja permanen SPV mencapai 1.900 orang,” kata Wolfram.
Direktur Jenderal Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian Panggah Susanto mengatakan, ketergantungan produsen tekstil dan produk tekstil (TPT) terhadap bahan baku, seperti kapas, serat rayon, dan sintetik, sangat tinggi. Diharapkan, kebutuhan domestik lebih diutamakan oleh SPV daripada untuk memenuhi ekspor walaupun kegiatan ekspor juga menghasilkan devisa bagi negara.
(Sumber: Kompas)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bos Forbes Yakin Indonesia Dapat Menjadi Negara Maju

Pemilik Majalah Forbes, Steve Forbes menilai orang Indonesia bisa semakin kaya dalam tahun-tahun ke depan. Sebab, kondisi perekonomian lebih baik dibandingkan mayoritas negara di dunia serta meningkatnya kebutuhan akan sumber daya alam menjadi faktor pendorong peningkatan kekayaan orang Indonesia. Pria yang mengaku khusus datang ke Jakarta untuk melongok perkembangan Tanah Air mengatakan, Indonesia dapat lebih maju jika secara serius membenahi sektor pendidikan dan infrastruktur. Dengan begitu, Indonesia dapat menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang saat ini berada di kisaran 6 persen atau lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 3 persen. Data yang dilansir majalah Forbes pada Desember ini memperlihatkan terjadinya peningkatan kekayaan orang-orang kaya di Indonesia. Total kekayaan 40 orang terkaya tersebut meningkat hampir dua kali lipat dalam satu tahun yaitu US$ 42 miliar pada tahun 2009 menjadi US$ 71 miliar pada tahun 2010. "Itu peningkatan uang yang teramat ...

Kalkulator Energi Buatan Dalam Negeri

KOMPAS.com — Kesulitan pemenuhan kebutuhan energi bukan hanya soal keterbatasan sumber daya dan teknologi, melainkan juga soal semakin tingginya permintaan energi itu sendiri. Betapapun melimpah sumber energinya, jika tak dibarengi dengan upaya efisiensi energi, sumber daya tersebut tetap akan terbatas. Peneliti Pusat Ilmu Komputer (Puslim) Universitas Indonesia beserta anggota tim lainnya yang bekerja sama dengan Danish International Development Assistance, Denmark, mengajak kita semua untuk mulai berhitung dengan seluruh energi yang digunakan, terutama energi listrik. Mereka mengembangkan kalkulator energi yang bisa diakses di portal www.konservasienergiindonesia.info . Zaki Rahman dari Puslim UI, dalam presentasinya di acara peluncuran Energy Efficiency and Conservation Clearing House Indonesia (EECCHI), hari ini (4/3/2011) di JW Marrriot Jakarta, mengatakan, "Kalkulator energi ini bisa menghitung konsumsi energi listrik, distribusi energinya ke mana saja, dan bagian-bagian ...