Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Tokoh Bangsa Indonesia

Ketika Bung Karno Membuat Amerika Tak Berdaya

Kisah nyata Bung Karno geram. Ike mencoba merayunya, “Tolong bebaskan pilotku”. Tapi Bung Karno tetap saja geram. Mungkin juga karena yang merayu Soekarno adalah Ike, seorang pria tua. Ike itu adalah nama panggilan D. Dwight Eisenhower, presiden AS di masa itu. Kali ini Amerika memang kena batunya. Negara digdaya itu dibikin malu Indonesia ketika pilotnya, Allen Pope ditembak jatuh di pulau Morotai. Lebih malu lagi, karena dengan tertangkapnya pilot itu, kedok AS dan CIA akhirnya terbuka. Kedok yang membuktikan AS melalui CIA sudah main api dengan petualangannya di balik pemberontakan separatisme di Indonesia. Termasuk juga infiltrasi AS yang mempersenjatai para pemberontak itu. Ini yang bikin Bung Karno geram, dan mulai memainkan kartu trufnya. Bung Karno yang tadinya dikerjai Amerika, sekarang balas mengerjai Amerika. Bung Karno sadar, tertangkapnya Allen Pope mendongkrak posisi tawar Indonesia di hadapan Amerika. Cerita selanjutnya adalah bagaimana Ike dan John F. Kennedy jadi...

Jusuf Ronodipuro, Penyebar Kabar Proklamasi

Di negara dengan luas wilayah sebesar Indonesia, tentu bukan perkara mudah mengabarkan berita proklamasi ke seluruh penjuru Nusantara pada tahun 1945. Hanya radio lah yang bisa menjangkau seluruh pelosok negeri. Kala itu satu-satunya stasiun radio yang ada hanyalah Hoso Kyoku, milik Dai Nippon. Lalu bagaimana kabar kemerdekaan kita bisa disebarluaskan? Adalah seorang pria muda bernama Jusuf Ronodipuro yang kala itu bekerja di Hoso Kyoku Jakarta (Radio Militer Jepang di Jakarta) yang mengumandangkan pesan penting tersebut. Ia menuturkan kisahnya. Pada tanggal 14 Agustus 1945, Jusuf muda yang bekerja sebagai reporter di Hoso Kyoku datang seperti biasa ke kantornya di Jalan Medan Merdeka Utara. Suasana pagi itu tampak lain, beberapa orang Jepang yang bekerja di radio tersebut tampak bergerombol, mereka berbisik-bisik dalam suasana yang muram, bahkan gadis-gadis Jepang terlihat menangis. Ternyata pada saat itu bom atom kedua sudah dijatuhkan di Nagasaki dan Jepang menyerah ...

Mohammad Hatta-Sang Proklamator

Sang Proklamator Mohammad Hatta lahir pada tanggal 12 Agustus 1902 di Bukittinggi. Di kota kecil yang indah inilah Bung Hatta dibesarkan di lingkungan keluarga ibunya. Ayahnya, Haji Mohammad Djamil, meninggal ketika Hatta berusia delapan bulan. Dari ibunya, Hatta memiliki enam saudara perempuan. Ia adalah anak laki-laki satu-satunya. Sejak duduk di MULO di kota Padang, ia telah tertarik pada pergerakan. Sejak tahun 1916, timbul perkumpulan-perkumpulan pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa. dan Jong Ambon. Hatta masuk ke perkumpulan Jong Sumatranen Bond. Sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond, ia menyadari pentingnya arti keuangan bagi hidupnya perkumpulan. Tetapi sumber keuangan baik dari iuran anggota maupun dari sumbangan luar hanya mungkin lancar kalau para anggotanya mempunyai rasa tanggung jawab dan disiplin. Rasa tanggung jawab dan disiplin selanjutnya menjadi ciri kh...

Muhammad Yamin

Lahir di Sawahlunto tanggal 23 Agustus 1903 dan meninggal di Jakarta tanggal 17 Oktober 1962. Sarjana hukum, sastrawan, tokoh politik, dan penggali sejarah Indonesia. Berpendidikan terakhir di Rechtshogeschool, Jakarta, tamat 1932. Giat dalam pergerakan politik sejak muda, antara lain: ketua Jong Sumatranen Bond (1926-1928), ketua Indonesia Muda (1928), dan ikut mencetuskan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 di Jakarta. Dalam kegiatan kepartaian dia seorang tokoh Partindo (1932-1938), Gerindo dan kemudian Perpindo, juga anggota Volksraad (Bel. = Dewan Rakyat Hindia Belanda), 1938-1942). Semasa pendudukan Jepang (1942-1945) dia anggota Dewan Penasehat Departemen Penerangan dan organisasi Putera. Pada awal zaman kemerdekaan, dia termasuk golongan Persatuan Perjuangan di bawah pemimpin Tan Malaka yang beroposisi terhadap kabinet Syahrir. Ikut memimpin percobaan kudeta yang terkenal sebagai Peristiwa 3 Juli 1946. Mahkamah Tentara Agung menjatuhkan hukuman 4 tahun padanya tetapi m...

Tokoh Indo yang Antikolonial

Danudirdja Setiabuddhi, 1879-1950 Tokoh Indo yang Antikolonial Judul buku: Het leven van EFE Douwes Dekker Penulis: Frans Glissenaar Penerbit: Hilversum Verloren, 1999 Tebal: 246 halaman *** Di Jakarta Selatan ada kecamatan dan kelurahan Setiabudi, suatu tempat yang jalan-jalannya juga bernama Setiabudi. Kawasan ini dibangun di abad yang lalu pada tahun 1950-an, dan namanya dibuat sebagai peringatan dan penghormatan terhadap tokoh nasional Setiabuddhi yang meninggal pada malam menjelang 8 Agustus 1950. Jenazahnya dimakamkan dengan kehormatan militer di taman makam pahlawan Bandung bersama para pejuang kemerdekaan lainnya. Tidak banyak yang diketahui oleh umum tentang sosok dan sejarah perjuangan Setiabuddhi. Mereka yang masih ingat pelajaran sejarah di sekolah, mungkin tahu bahwa ia adalah satu dari tiga serangkai, bersama Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat, yang mengadakan tindakan-tindakan antikolonial pada tahun 1910-an sehingga mengakibatkan mer...