Bermain
dengan hati, tidak mudah memang, apalagi ketika hati bermain di fase cinta,
rasanya semuanya menjadi lebih rumit, membingungkan dan menyesakkan. Bermain
dengan hati itu repot, menyusahakan, juga menyebalkan, tapi manusia mana yang
bisa menghindarinya?,. Seperti apapun rupa dan bentuk manusai, suatu saat
hatinya pasti akan bermain, entah tentang cinta, cemburu, iri, dengki, kesel,
bosa, muak atau apapun itu, suatu saat pasti akan dirasa. Dari kesemua itu,
permainan hati yang paling tidak kusukai adalah cinta, iya, cinta, karena cinta
itu komplek, lebih komplek dari algoritma matematik, fisika maupun kimia dengan
rangkaian perhitungannya. Berbeda pula dengan itu, cinta ukurannya adalah
abstrak dan absolute, tidak bisa pul di hitung dengan persamaan apapun yang di ciptakan
manusia, hasil hitungan kuantitatifnya adalah tak terhingga, bayangkan, jumlah nonya saja tidak bisa di hitung, itu
cinta, ukurannya abstrak dan tidak bisa di konkritkan. Cinta itu adalah ukuran
tindakan yang dilakukan tanpa perhitungan, karena cinta juga tidak bisa di
nominalkan dengan uang, ukurannya kabur, juga tidak terhingga,. Bagi pecinta,
tida ada nominal uang yang dapat menggantikan arti cinta yang sebenarnya, ia
datang dari hati, untuk orang-orang yang terpilih.
Mengapa
aku katakan cinta itu hanya untuk orang-orang terpilih?, karena cinta itu dari
definisi yang lain adalah kesetiaan yang juga tidak bisa di ukur seenaknya,
ditelisik dari definisi yang lain cinta adalah pengorbanan, apa yang sanggup
kau korbankan, adalah apa yang akan kau dapatkan, cinta itu tidak mengkhianati
pengorbanan, setidaknya itulah yang di peroleh bagi pecinta sejati, dan jika
kau mendapati bahwa jika pengorbanannya di khianat, itu bukanlah cinta, pasti, itu bukan cinta.
Cinta
adalah kata yang bisa di tafsirka dengan banyak makna, setidaknya bagiku, cinta
adalah mencintaimu dengan hatiku, sehingga apapun yang ku berikan adalah sepenuhnya
dari hatiku, dan jika aku mengkhianati cintamu, maka robek saja hatiku, karena
ia tak layak untuk mencinta.
*saat aku memikirkannya,.
Jakarta, Maret 2016
Komentar
Posting Komentar